<!--Can't find substitution for tag [blog.pagetitle]-->

Thursday, 13 October 2016

Hortikultura

Hortikultura (horticulture) berasal dari bahasa latin “hortus” (tanaman kebun) dan “cultura/colere” (budidaya). Dari dua kata tersebut, banyak definisi dan istilah-istilah mengenai hortikultura.
Hortikultura dapat diartikan sebagai budidaya tanaman kebun atau cara menanam yang dapat dilakukan di pekarangan rumah atau kebun.
Arti hortikultura menurut Pasal 1 ayat 1 UU Republik Indonesia No. 13 Tahun 2013 tentang hortikultura, “Hortikultura adalah segala hal yang berkaitan dengan buah, sayuran, bahan obat nabati, dan florikultura, termasuk di dalamnya jamur, lumut, dan tanaman air yang berfungsi sebagai sayuran, bahan obat nabati, dan/atau bahan estetika”.

Dilihat dari segi keilmuan yang merupakan cabang dari agronomi dan kesepakatan para ahli, hortikultura merupakan keilmuan yang mempelajari pembudidayaan tanaman kebun.
Budidaya yang dimaksudkan adalah budidaya tanaman sayuran, buah-buahan, bunga-bungaan, dan tanaman hias.
Hortikultura telah menjadi sebuah metode budidaya pertanian modern yang memfokuskan pada budidaya tanaman buah (pomologi/frutikultur), tanaman bunga (florikultura), tanaman sayuran (olerikultura), tanaman obat-obatan (biofarmaka), dan taman (lansekap) serta memiliki bidang kerja yang meliputi pembenihan, pembibitan, kultur jaringan, produksi tanaman, hama dan penyakit, panen, pengemasan dan distribusi.

Definisi tanaman hortikultura menurut Pasal 1 ayat 3 UU Republik Indonesia No. 13 Tahun 2013 tentang hortikultura, “Tanaman hortikultura adalah tanaman yang menghasilkan buah, sayuran, bahan obat nabati, florikultura, termasuk di dalamnya jamur, lumut, dan tanaman air yang berfungsi sebagai sayuran, bahan obat nabati, dan/atau bahan estetika”.

Budidaya tanaman hortikultura yang telah dilakukan di Indonesia, yaitu :
  • Pomologi / Frutikultur : Manggis, Mangga, Apel, Durian, Salak, dll
  • Florikultura : Melati, Mawar, Krisan, Anyelir, Begonia, Bugenvil, dll
  • Olerikultura : Cabai Merah, Bawang Merah, Bawang Putih, Kubis, Kacang Panjang, Tomat, Selada, Bayam, Wortel, Kentang, (Melon & Semangka: termasuk kelompok tanaman sayuran yang di panen buahnya) dll
  • Biofarmaka : Purwoceng, Rosela, Kunyit, dll
  • Lansekap : Taman Bali, Taman Jawa, dll

Indonesia yang terletak di tropis membuat Indonesia menjadi surga biodiversitas (keanekaragaman hayati) komoditas hortikultura.
Komoditas utama hortikultura dibagi menjadi 3 (tiga) aspek komoditas :
  1. Komoditas prioritas : jeruk, pisang, mangga, manggis, durian, anggrek, cabai merah, bawang merah, dan kentang
  2. Komoditas unggulan : pepaya, salak, nenas, apel, anggur, tomat, kubis, kacang panjang, buncis, mawar, anyelir, lili, krisan, sedap malam, dan dracaena.
  3. Komoditas prospektif : semangka, melon, markisa, jambu, kesemek, rambutan, alpokat, lengkeng, sayuran asli Indonesia (indigenous), dan tanaman hias tropika.

Posted by : Juragandlieur
This post Updated at :Thursday, October 13, 2016

Sunday, 26 June 2016

Iklim Oldeman

Kriteria bulan basah (wet month), bulan lembab (humid month) dan bulan kering (dry month) menurut Oldeman adalah sebagai berikut :
  1. Bulan Basah (BB); Bulan dengan rata-rata curah hujan > 200 mm
  2. Bulan Lembab (BL); Bulan dengan rata-rata curah hujan 100 mm – 200 mm
  3. Bulan Kering (BK); Bulan dengan rata-rata curah hujan < 100 mm
Dalam penentuan klasifikasi iklimnya, Oldeman menggunakan panjang periode bulan basah dan bulan kering ”berturut-turut”. Bulan lembab tidak digunakan dalam penentuan klasifikasi iklimnya.
Tipe Utama klasifikasi Oldeman dikelompokkan menjadi 5 tipe yang didasarkan pada jumlah bulan basah (BB) berturut-turut, sedangkan sub divisinya dikelompokkan menjadi 4 yang didasarkan pada jumlah bulan kering (BK) berturut-turut.

Tabel 1. Kriteria Klasifikasi Oldeman
Tipe Utama
BB Berturut-turut
Sub Divisi
BK Berturut-turut
A
> 9
1
< 2
B
7 – 9
2
2 – 3
C
5 – 6
3
4 – 6
D
3 – 4
4
> 6
E
< 3



Oldeman juga menjelaskan hubungan antara klasifikasi iklim dengan pertanian khususnya tanaman pangan, seperti terlihat pada Tabel 2 di bawah ini :

Tabel 2. Penjabaran Kegiatan Pertanian Berdasarkan Klasifikasi Oldeman
Tipe Iklim
Penjabaran Kegiatan
Keterangan
A1A2
Sesuai untuk padi terus-menerus, produksi kurang, karena fluks radiasi surya rendah
3 PS umur pendek atau 2 PS + 1 PL
B1
Sesuai untuk padi terus-menerus, dengan perencanaan yang baik, produksi tinggi bila panen musim kemarau
3 PS umur pendek atau 2 PS + 1 PL
B2
Dua kali padi varietas umur pendek, musim kemarau yang pendek cukup untuk palawija
2 PS + 1 PL
C1
Tanam Padi sekali dan palawija dua kali
1 PS + 2 PL
C2C3C4
Tanam padi sekali, palawija kedua jangan jatuh pada musim kemarau
1 PS + 1 PL + 1 SK
D1
Padi umur pendek satu kali, produksi tinggi, palawija
1 PS + 1 PL
D2D3D4
Hanya mungkin satu kali padi atau satu kali palawija
1 PS atau 1 PL
E
Terlalu kering, hanya mungkin satu kali palawija
1 PL

Posted by : Juragandlieur
This post Updated at :Sunday, June 26, 2016

Saturday, 11 June 2016

Iklim Schmidt-Ferguson

Sistem klasifikasi iklim ini banyak digunakan dalam bidang kehutanan dan perkebunan serta sudah sangat dikenal di Indonesia.
Kriteria yang digunakan adalah dengan penentuan nilai Q, yaitu perbandingan antara bulan kering (BK) dan bulan basah (BB) dikalikan 100% (Q = BK / BB x 100%).
Klasifikasi ini merupakan modifikasi atau perbaikan dari sistem klasifikasi Mohr (Mohr menentukan berdasarkan nilai rata-rata curah hujan bulanan selama periode pengamatan). BB dan BK pada klasifikasi Schmidt-Ferguson ditentukan tahun demi tahun selama periode pengamatan yang kemudian dijumlahkan dan dihitung rata-ratanya.
Kriteria bulan basah dan bulan kering (sesuai dengan kriteria Mohr) adalah :
1. Bulan Basah (BB); Bulan dengan curah hujan > 100 mm
2. Bulan Lembab (BL); Bulan dengan curah hujan antara 60 – 100 mm
3. Bulan Kering (BK); Bulan dengan curah hujan < 60 mm

Klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson ditentukan dari nilai Q yang dikelompokkan menjadi 8 tipe iklim, yaitu :
Tabel Klasifikasi Schmidt-Ferguson

Tipe Iklim Nilai Q (%) Keadaan Iklim dan Vegetasi
A < 14,3 Daerah sangat basah, hutan hujan tropika
B 14,3 – 33,3 Daerah basah, hutan hujan tropika
C 33,3 – 60,0 Daerah agak basah, hutan rimba, daun gugur pada musim kemarau
D 60,0 – 100,0 Daerah sedang, hutan musim
E 100,0–167,0 Daerah agak kering, hutan sabana
F 167,0–300,0 Daerah kering, hutan sabana
G 300,0–700,0 Daerah sangat kering, padang ilalang
H > 700,0 Daerah ekstrim kering, padang ilalang

Posted by : Juragandlieur
This post Updated at :Saturday, June 11, 2016

Sunday, 24 January 2016

Alat Untuk Mengukur Penguapan

Alat Pengukur Penguapan

Evaporimeter panci terbuka ini berfungsi sebagai pengukur penguapan [evaporasi] pada udara terbuka. Makin luas permukaan panci, makin representatif atau makin mendekati penguapan yang sebenarnya terjadi pada permukaan danau, waduk, sungai dan lain-lainnya.
Besar atau kecilnya penguapan yang terjadi tergantung dari penyinaran matahari, angin, hujan, suhu, kelembaban udara dan awan. Oleh karena itu selain membaca skala Hook Gauge, pengamat harus membaca suhu pada thermometer apung (Floating Thermometer) yang berada dalam panci dan membaca angka pada Cup Counter Anemometer (berfungsi untuk mengukur hembusan angin rata-rata selama 24 jam) dengan ketinggian 50 Cm yang berada dekat panci untuk mengukur kecepatan angin horizontal.
Alat ini dikenal pula dengan istilah Panci Penguapan Kelas A.
Untuk mengetahui jumlah penguapan dengan menggunakan evaporimeter jenis ini, memerlukan perlengkapan sebagai berikut : 
  1. Panci Bundar Besar berdiameter 122 Cm dengan ketinggian 25,4 Cm.
  2. Still Well ialah bejana terbuat dari logam [kuningan] yang berbentuk silinder dan mempunyai 3 buah kaki.
  3. Hook Gauge yaitu suatu alat untuk mengukur perubahan tinggi permukaan air dalam panci. Hook Gauge mempunyai bermacam-macam bentuk, sehingga cara pembacaannya berlainan. 
  4. Thermometer apung (Floating Thermometer); Thermometer ini untuk mengukur suhu maximum dan minimum air pada panci.
  5. Cup Counter Anemometer.
  6. Penakar hujan type observatorium [OBS]
Cara mengoperasikan alat untuk mencari jumlah penguapan  : 
  1. Putar Hook Gauge hingga ujung kaitannya bersinggungan dengan permukaan air dalam Still Well.
  2. Baca Skala yang bersinggungan dengan putaran Hook Gauge.
  3. Untuk memperoleh nilai penguapan selama 24 jam, digunakan rumus :
    ((Pembacaan I – Pembacaan II) + Jumlah curah hujan yang diukur dengan penakar hujan obs).  
*) Pembacaan I : Pembacaan skala hook gauge pada jam 07.00 kemarin; Pembacaan II : Pembacaan skala hook gauge pada jam 07.00 hari ini.

Posted by : Juragandlieur
This post Updated at :Sunday, January 24, 2016

Friday, 22 January 2016

Alat Untuk Mengukur Suhu Udara

Thermometer

Psychrometer
Alat untuk mengukur temperatur/suhu adalah thermometer.
Untuk pengamatan suhu udara digunakan thermometer kaca (liquid-in-glass thermometer).

Thermometer ini umumnya menggunakan air raksa (mercury) untuk pengukuran temperatur diatas  freezing point (-38.30 C) dan menggunakan alkohol untuk pengukuran yang memiliki jangkauan ukur dibawah/sekitar freezing point.

Dalam pengukuran suhu udara digunakan berbagai jenis thermometer, seperti :
Thermometer Maksimum (Max), Thermometer Minimum (Min). Thermometer Bola Basah (BB) dan Thermometer Bola Kering (BK).

Dalam pengukuran suhu udara digunakan berbagai jenis thermometer, seperti :
  1. Thermometer Maksimum (Max); Digunakan untuk mengukur Suhu Udara Maksimum
  2. Thermometer Minimum (Min); Digunakan untuk mengukur Suhu Udara Minimum
  3. Thermometer Bola Kering (BK); Digunakan untuk mengukur Suhu Udara sebenarnya.
  4. Thermometer Bola Basah (BB); Digunakan untuk mengukur Suhu Udara yang diperlukan agar uap air dapat berkondensasi. Oleh karena itulah tabung thermometer BB dibungkus oleh kain muslin yang selalu dibasahi sehingga suhu yang terukur adalah suhu saturasi/titik jenuh udara yang mengandung uap air.
    Psychrometer Sangkar
Thermometer BK dan BB disebut juga sebagai Psychrometer karena digunakan sebagai acuan perhitungan untuk menentukan kelembaban udara [RH].
Thermometer-thermometer tersebut disimpan dalam sangkar meteorologi sehingga disebut juga sebagai Psychrometer Sangkar.

Posted by : Juragandlieur
This post Updated at :Friday, January 22, 2016

Friday, 8 January 2016

Elnino

El Nino

El Niño adalah suatu gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di samudra Pasifik sekitar equator khususnya di bagian tengah dan timur (sekitar pantai Peru). Akibat terjadinya gejala ini, di sekitar pantai Peru banyak ikan mati dan hasil tangkapan menurun. Nelayan Peru memberikan julukan gejala ini dengan istilah El Niño [Anak laki-laki].
Secara umum El Niño merupakan fenomena yang muncul akibat interaksi antara atmosfer–lautan. Temperatur permukaan laut mempengaruhi permukaan udara di atasnya, sehingga tekanan udara berfluktuasi menimbulkan angin yang bergerak dari daerah tekanan tinggi ke daerah tekanan rendah dan menimbulkan arus laut yang bergerak searah dengan arah angin dominan. Selanjutnya distribusi arus menyebabkan adanya distribusi temperatur permukaan laut di berbagai daerah di seluruh muka bumi mempengaruhi sirkulasi angin di atasnya dan seterusnya.
Lautan dan atmosfer adalah dua sistem yang saling terhubung, maka penyimpangan kondisi laut akan menyebabkan terjadinya penyimpangan pada kondisi atmosfer yang pada akhirnya berakibat pada terjadinya penyimpangan iklim. Pola tekanan atmosfer didominasi oleh daerah tekanan tinggi subtropis yang hampir permanen di Timur Laut dan Pasifik Selatan dan daerah tekanan rendah di daerah Equator (Indonesia-Australia). Akibatnya angin Timur bergerak meluas ke Pasifik Equator.
Dalam kondisi iklim normal, suhu permukaan laut di sekitar Indonesia (pasifik equator bagian barat) umumnya hangat dan karenanya proses penguapan mudah terjadi dan awan-awan hujan mudah terbentuk. Namun ketika fenomena El Niño terjadi, saat suhu permukaan laut di pasifik equator bagian tengah dan timur menghangat, justru perairan sekitar Indonesia umumnya mengalami penurunan suhu (menyimpang dari biasanya). Akibatnya, terjadi perubahan pada peredaran masa udara yang berdampak pada berkurangnya pembentukan awan-awan hujan di Indonesia.  El Niño terjadi karena pemanasan di ekuator samudra pasifik dan pemanasan global juga menjadi salah satu unsurnya.

Sejauh mana pengaruhnya El Niño di Indonesia, sangat tergantung dengan kondisi perairan wilayah Indonesia. Fenomena El Niño yang berpengaruh di wilayah Indonesia dengan diikuti berkurangnya curah hujan secara drastis, baru akan terjadi bila kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin. Namun bila kondisi suhu perairan Indonesia cukup hangat tidak berpengaruh terhadap kurangnya curah hujan secara signifikan di Indonesia. Disamping itu, mengingat luasnya wilayah Indonesia, tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena El Nino.
Dampak El Niño terhadap iklim di Indonesia akan terasa kuat jika terjadi bersamaan dengan musim kemarau, dan akan berkurang (atau bahkan tidak terasa) jika terjadi bersamaan dengan musim penghujan. Dampak El Niño berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat lain, tergantung pada karakteristik iklim lokal. Dampak langsung dari El Niño yang bisa memicu masalah lain pada sektor pertanian, seperti gagal panen dan melemahnya ketahanan pangan adalah berkurangnya curah hujan dan terjadinya kemarau panjang.
Fenomena El Niño bukanlah kejadian yang terjadi secara tiba-tiba. Proses perubahan suhu permukaaan laut yang biasanya dingin kemudian menghangat bisa memakan waktu dalam hitungan minggu hingga bulan.
BMKG melakukan pemantauan terhadap fenomena El Niño dengan memanfaatkan data-data atmosfer dan kelautan yang terekam melalui weather buoy [alat perekam data atmosfer dan lautan yang bekerja otomatis dan ditempatkan di samudra] kemudian menganalisis perubahan suhu muka laut dari waktu ke waktu. Pemantauan ini dilakukan dengan membuat peta perkembangan suhu lautan baik sebaran spasial (lintang-bujur) maupun irisan vertikal yaitu peta suhu laut untuk beberapa tingkat kedalaman. (Produk-produk analisis ini tersedia di web resmi BMKG).
Tahun Kejadian Kemarau Panjang bersamaan dengan kejadian El nino : 1903, 1914, 1925, 1965, 1977, 1982, 1987,1991, 1994, 1997.

Artikel lainnya mengenai El nino :






Posted by : Juragandlieur
This post Updated at :Friday, January 08, 2016

Thursday, 7 January 2016

Alat Untuk Mengukur Arah dan Kecepatan Angin

Anemometer

ANEMOMETER

Anemometer berfungsi untuk mengukur laju dan kecepatan angin. Dalam pergerakannya angin selalu berpindah-pindah arah. Data yang dipergunakan adalah data arah darimana datangnya angin dan kecepatannya.
Secara klimatologis, Arah angin dinyatakan dalam derajat, diantaranya Utara : 360 derajat , Timur : 90 derajat, Selatan : 180 derajat, Barat : 270 derajat. Sedangkan untuk kecepatan angin dinyatakan dalam satuan knot (1 Knot = 0,5 m/s).
Ketinggian anemometer ini adalah 10 M dengan sensor arah anginnya berupa anak panah dan sensor kecepatannya berupa tiga buah mangkuk logam. Kedua sensor itu dihubungkan pada display untuk menunjukkan arah dan kecepatan angin.  

Dari data angin, suatu bidang kegiatan manusia dapat terhindar dari bencana, misalnya pada bidang pelayaran. Dengan data angin tersebut dapat diprediksikan ketinggian gelombang air laut sehingga dalam perencanaan untuk berlayar dapat ditentukan kapan waktu dan saat yang tepat.

Posted by : Juragandlieur
This post Updated at :Thursday, January 07, 2016